Selasa, 07 Juli 2015

Transport in Card

Tugas 2 Pemrograman Jaringan : Inovasi Teknologi

Kelas : 4IA18
Anggota Kelompok :
  1. Enrico Didi Fransman          (52411444)
  2. Yohanes Frans Budiman      (57411551)
  3. Juliandi Kasugara G.            (53411879)

1. Latar Belakang
Transportasi adalah hal yang sangat krusial dalam kehidupan manusia, terganggunya kelancaran dalam transportasi dapat mengganggu seluruh aktivitas manusia. Era globalisasi ini membutuhkan perpindahan manusia dengan cepat, tempat kerja yang terkadang jauh harus diakses dengan transportasi umum seperti kereta, bus, atau angkutan umum lainnya. Tentunya setiap penggunaan transportasi umum ini membutuhkan biaya yang harus dikeluarkan oleh penggunanya. Pembayaran yang digunakan masih sekarang ini masih cenderung merepotkan, setiap transportasi memiliki cara pembayaran yang berbeda. Indonesia memiliki cara pembayaran untuk angkutan umum yang cukup rumit, setiap transportasi masih mengharuskan penggunanya merogoh saku dan menyediakan uang receh untuk pembayaran. Cara pembayaran yang cenderung modern yaitu menggunakan kartu magnetik masih hanya terfokus pada Pulau Jawa, sementara angkutan umum Bus Transjakarta hanya ada di ibukota Indonesia yaitu DKI Jakarta. Bahkan di DKI Jakarta sendiri pembayaran juga masih melibatkan uang kartal yang pastinya sangat merepotkan, karena pengguna masih harus naik turun angkutan umum, dan masih harus menyiapkan uang pas di kantongnya agar tidak menghambat mobilitas. Solusi untuk hal ini adalah penyederhanaan cara pembayaran, penulis menamakannya dengan “Transport in Card”

2. Landasan Teori
Kartu Magnetic Stripe adalah Salah satu jenis kartu yang mampu menyimpan data dalam pita magnetik yang berbaris dalam Garis-garis magnetik dikartu, sering disebut juga kartu gesek atau magstripe, ia dapat dibaca ketika ada kontak fisik dan menggesekkannya melewati mesin pembaca atau card reader. Pita Magnetik stripe itu data tentang informasi pemilik kartu , PIN, dan data lainnya yang digunakan menggunakan kartu magnetik stripe ini. Kartu Magnetic strip dibuat untuk menyimpan data yang mana kartu tersebut digunakan untuk transaksi atau sebagai alat pembayaran.

Pembuatan Kartu Magnetic Stripe dibuat berdasarkan standar dari :
  1. ISO 7810 : Physical Characteristics
  2. ISO 7811-1 : Embossing
  3. ISO 7811-2 : Magnetic Stripe – Low Coercivity
  4. ISO 7811-3 : Location of Embossed Characters
  5. ISO 7811-4 : Location of Tracks 1 and 2
  6. ISO 7811-5 : Location of Track 3
  7. ISO 7811-6 : Magnetic Stripe – High Coercivity
  8. ISO 7813 : Financial Transaction Cards


Standar diatas merupakan standar dalam pembuatan kartu magnetic stripe oleh institusi. Besarnya harus standar, letaknya harus sesuai, harus dapat menghandle panas lain lain. Tujuannya agar semuanya standar dan dapat digunakan dinegara manapun. Tentunya dengan standar Kartu, maka card reader dimanapun akan juga standar agar dapat membaca kartu magnetic stripe.

Magnetic Stripe Encoding Tipe :

Track 1 (IATA)


IATA : International Air Transport Association : Format Magnetic Stripe yang menyimpan informasi lebih besar dibanding Trac 2, dan berisi Nama Pemilik Kartu, Nomer Akun, dan Informasi Data yang lainnya, seperti dalam Format Track 1. Track format seperti ini digunakan untuk Penerbangan Pesawat ketika melakukan reservasi melalui Kartu Kredit atau pemesanan tiket dan reservasi sistem secara otomatis menggunakan kartu Standar IATA.

Track 2 (ABA)


ABA : American Banking Association, dikembangkan oleh American Bankers Association untuk alat pembayaran atau transaksi. Saat ini Track 2 yang sering digunakan yaitu untuk kartu debit bank dan kartu kredit. Tetapi untuk beberapa kartu kredit sudah diharuskan untuk berpindah menggunakan Format Track 1 untuk mengamankan pemilik Kartu. Format Track 2 biasa dapat dibaca dengan Channel Reader seperti ATM, EDC ataupun Kartu Kredit Reader. ABA didesain sebagai spesifikasi standar untuk semua Bank yang menerbitkan kartu untuk digunakan oleh nasabah dalam transaksi. Isi datanya dapat dilihat seperti digambar. Saat ini Track 2 yang digunakan untuk Bank- Bank di Indonesia untuk mengakomodasi informasi tentang Issuer atau pemilik kartu untuk dapat bertransaksi baik antar bank maupun untuk pembayaran via EDC.
ABA sama dengan implementasi di indonesia disebut juga dengan Kode Bank. Biasanya kalau kita transaksi via ATM, maka kita dapat lihat kode banknya. ABA code sama dengan ialah Kode Bank untuk bank-bank yang ada di indonesia untuk digunakan sebagai routing transaksi dalam financial transaction.

Track 3 (THRIFT)


THRIFT : Track 3 belum banyak digunakan, tetapi beberapa telah digunakan untuk Industri dengan berbagai tipe Giro atau Tabungan atau Kartu Kredit dalam mengakomodir transaksi. Dengan jumlah Data Character yang lebih banyak dapat dihandle di track 3 sehingga kartu tersebut dapat berisi sesuai dengan data yang diinginkan.
Format Track yang digunakan untuk semua tracknya dimulai dengan SS (start Sentinel) dan ES (End Sentinel) ini seperti layaknya Header dan Trailer sebagai tanda untuk melakukan pembacaaan dalam informasi yang ada di dalam pita stripe. Selain itu, Informasi yang dimiliki dalam Track semuanya ialah PAN (Primary Account Number) ini sama dengan Nomor Kartu yang tercetak di kartu nasabah., Kartu Nasabah Maksimal 19 Digit, dan selalu memiliki 6 Digit Unik untuk setiap Bank. Dan besarnya digit kartu sesuai dengan kebijakan Bank.

3. Rancangan
“Transport in Card” adalah sistem pembayaran transportasi dengan menggunakan kartu magnetik sebagai medianya. Sistem ini mengadaptasi dari kartu kredit, di mana penggunaan kartu kredit yang sudah sangat luas, dapat digunakan di hamper seluruh pusat perbelanjaan, restoran, tempat wisata, hotel, dan lainnya. Transport in Card membuat penggunaannya hanya perlu butuh satu kartu untuk akses pembayaran semua transportasi di seluruh Indonesia. Sebagai fase awal kartu ini digunakan untuk semua pembayaran transportasi yang membutuhkan tiket dalam penggunannya, seperti kapal laut, bus antar daerah, pesawat, kereta api, dan bus TransJakarta. Cara penggunaannya pun dengan cara tapping, atau hanya dengan mengarahkan kartu ke pemindai, dan pemindai akan mendeteksi kartu magnetic dan mengurangi nominal saldo di dalam kartu tersebut. Adapun diagram use case dari sistem ini adalah sebagai berikut :


Diagram di atas masih sangat sederhana namun menggambarkan secara umum bagaimana penggunaan kartu untuk transportasi ini, singkatnya pengguna membeli kartu, mengisi saldo kartu, menggunakan kartu pada stasiun angkutan umum yang digunakan dan saldo pada kartu pun berkurang.
Dengan sistem ini akan menghemat penggunaan kertas sebagai tiket bawaan. Sedangkan untuk sistem pembelian reservasi, pengguna dapat mengakses reservasi melalui website, atau langsung di stasiun angkutan umum, dengan menunjukkan kartu transportasi, menggunakan nomor induk kartu saldo akan langsung dikurangi saat pembelian, dan akan diberikan karcis reservasi tempat duduk, kemudian pada hari keberangkatan kembali dilakukan pemindaian di stasiun sebagai verifikasi atau dapat dikatakan sebagai fase boarding pass.

Sumber :